Jumat, 27 November 2009


PENYAKIT KUSTA TERTINGGI DI KOTA JAYAPURA

Jam di dinding baru menunjukan pukul 09.00 pagi, namun kursi antrian pasien di puskesmas Kotaraja mulai dipenuhi pasien. Bahkan ada yang berdiri. Secarik kertas nomor antrian sekali-kali diliriknya, tampak raut wajah penuh kegelisahan, karena nomor yang dipanggil petugas masih jauh dengan nomor yang dipegangnya. NA (30 tahun) seorang pasien pria yang rutin berobat di Puskesmas Kotaraja demi penyakit yang sedang dideritanya. Sudah 7 bulan Ia menjalani perawatan. Hasilnya pun luar biasa, penyakit kusta yang dialaminya mulai mengering dan menuju kesembuhan. Semuanya terjadi akibat dari tekadnya, serta dukungan keluarganya yang selalu memberi motivasi, semangat untuk berobat dan minum obat secara teratur.

Cara Penularan

Menurut Maria (Mira) M. Nyamirah, AMd. Kep, Petugas Kusta di Puskesmas Kotaraja, penyakit kusta merupakan penyakit yang bisa disembuhkan. Setiap pagi sebelum melaksanakan dinasnya, ia selalu menjelaskan tentang penyakit kusta kepada setiap pasien yang berobat. Tidak hanya itu, brosur tentang penyakit kusta selalu disimpan di ruang antrian pasien. Langkah tersebut diambil guna memberi pengetahuan dan ajakan bagi pasien atau keluarganya yang dicurigai terkena kusta. Di mana gejala awal penyakit kusta, penderita tidak merasa terganggu, hanya terdapat kelainan kulit berupa bercak putih seperti panu ataupun bercak kemerah-merahan. Dari data Puskesmas Kotaraja, mulai dari tahun 2008 sampai saat ini ditemukan 13 orang pasien yang sedang menjalani pengobatan. “Kebanyakan diderita oleh kaum pria, ketimbang kaum perempuan,” kata Mira.

Lepra alias kusta merupakan penyakit yang disebabkan bakteri ‘Mycobacterium leprae’. Penyakit ini bukan disebabkan oleh kutukan atau keturunan, tetapi penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Di mana Cara penularannya melalui droplet (udara) dan kontak langsung dengan pasien. “Siapa saja bisa terkena kusta, tetapi kebanyakan dialami oleh orang-orang dengan ekonomi rendah karena tidak hidup sehat dan tidak menjaga kebersihan,” kata Mira. Menurut Kepala Puskesmas Kotaraja, dr. Alex Thesia, di lihat dari sisi medis, Kusta diklasifikasikan berdasarkan banyak faktor, hal tersebut bertujuan untuk mempermudah cara penanganan dari penyakit kulit ini. Namun, pada umumnya Kusta terbagi menjadi dua, yakni kusta pausibasilar (PB) atau kusta tipe kering dan kusta multibasilar (MB) atau kusta tipe basah. Kusta Pausibasilar (PB) dengan tanda-tandanya: Bercak putih seperti panu yang mati rasa, artinya bila bercak putih tersebut disentuh dengan kapas, maka kulit tidak merasakan sentuhan tersebut, Permukaan bercak kering dan kasar, Permukaan bercak tidak berkeringat, Batas (pinggir) bercak terlihat jelas dan sering ada bintil-bintil kecil. “Kusta tipe kering ini kurang/tidak menular, namun apabila tidak segera diobati akan menyebabkan cacat,”.

Kusta Multibasilar (MB), tanda-tandanya: Bercak putih kemerahan yang tersebar satu-satu atau merata diseluruh kulit badan, Terjadi penebalan dan pembengkakan pada bercak, Pada permukaan bercak, sering ada rasa bila disentuh dengan kapas, dan Pada permulaan tanda dari tipe kusta basah sering terdapat pada cuping telinga dan muka. Kusta tipe basah ini dapat menular, maka bagi yang menderita penyakit tipe kusta tipe basah ini harus berobat secara teratur sampai selesai seperti yang telah ditetapkan oleh dokter. Pengobatan PB biasanya membutuhkan waktu sekitar enam bulan, sedang MB butuh waktu 12 bulan lebih.Penularannya melalui kontak langsung dengan kulit, seperti tukar pakaian dan tempat tidur maupun melalui kontak langsung lewat udara. Selain itu, Penyakit kusta bukan penyakit keturunan, tetapi jika dalam satu keluarga terkena penyakit tersebut, besar kemungkinan keluarga tersebut ada yang terkena kusta juga.” kata Alex.

Pencegahan

Pencegahan cacat Kusta jauh lebih baik dan lebih ekonomis daripada penanggulangannya. Pencegahan ini harus dilakukan sedini mungkin, baik oleh petugas kesehatan maupun oleh pasien itu sendiri dan keluarganya. Menurut Mira, Upaya pencegahan dan penemuan dini seorang penyakit kusta sangat bermanfaat dalam proses penyembuhan. Tetapi jika ditemukan dalam keadaan yang sudah parah, maka akan mengakibatkan pada kecacatan permanen. Keterlambatan tersebut dipicu akibat ketidaktahuan atau perasaan malu, sehingga menutup diri supaya diketahui oleh orang lain. Guna memberantas dan memutuskan rantai penularan penyakit kusta, Puskesmas Kotaraja, melalui dua langkah penjaringan yaitu, tindakan pasif, artinya di mana pasien datang ke Puskesmas dipemeriksa apakah ada tanda-tanda penyakit kusta. Kedua tindakan aktif, artinya melalui penyuluhan langsung baik itu ke sekolah-sekolah, Posyandu maupun dalam masyarakat langsung. “Saya berharap keluarga yang ada sakit kustanya jangan malu untuk berobat. Dan para tetangga yang mungkin berdekatan dengan pasien kusta, jangan takut tetapi berilah dukungan kepada mereka supaya cepat sembuh. Sebab penyakit kusta ada obatnya dan bisa disembuhkan,” kata Alex.

Menurut Arif Dwi Darmanto, M.Kes, Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan, Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Secara keseluruhan jumlah penderita kusta tahun 2009 diperkirakan mencapai minimal 220 kasus dari 236.456 jiwa penduduk Kota Jayapura. Prevalensi di Provinsi Papua masih berada pada kisaran angka 3,9. Artinya, di antara 10.000 penduduk rata-rata terdapat empat penderita kusta. Di Kota Jayapura angka prevalensinya sangat mengejutkan, yaitu 11,2 per 10.000 penduduk dan merupakan jumlah kasus tertinggi diantara seluruh kabupaten/kota di provinsi Papua. Kasus baru selalu saja ditemukan di berbagai tempat di wilayah Kota Jayapura. Terhitung sejak tahun 2001 rata-rata per tahunnya tak kurang dari 160 penderita kusta baru terdeteksi oleh petugas kesehatan. Dalam hal ini Kota Jayapura merupakan wilayah dengan jumlah penyandang kusta terbanyak di Provinsi Papua. Proporsi jumlah kasus barunya hampir sepertiga dari angka Provinsi. Sebagian penderita kusta terkonsentrasi di daerah pusat kota dan daerah pinggiran. Ada 4 daerah endemis, antara lain, Hamadi, Elly Uyo, Hedam dan Jayapura Utara.

Di samping sulitnya menekan jumlah kasus, angka kecacatan yang ditimbulkan tidak kurang dari 8% per tahun. 10% diantaranya adalah anak-anak. “Kalau proporsi penyakit kusta banyak terjadi pada anak, maka sangat disayangkan,” kata Arif. Dinas Kesehatan Kota Jayapura telah membentuk 2 KPD (Kelompok Perawatan Diri-Red) bagi penderita kusta, yang dipusatkan di Puskesmas Hamadi dan Puskesmas Abepura. Angka Penemuan Kasus Baru dan proporsi kasus Kusta pada anak-anak berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Jayapura tahun 2008 adalah: Jumlah penderita baru 219 orang Kusta, Angka Penemuan Kasus Baru 11,2/ 10.000, dan Proporsi Kasus Kusta pada anak-anak 17,5 %. Angka Penemuan Kasus Baru menggambarkan jumlah penemuan kasus baru Kusta diantara 100.000 penduduk. Proporsi kasus Kusta pada anak-anak menggambarkan prosentase kasus Kusta pada usia anak-anak diantara semua kasus Kusta. Kedua indikator tersebut menggambarkan bahwa masih ada atau terjadi proses penularan Kusta di masyarakat. Oleh karena itu upaya-upaya sosialisasi, advokasi program P2 Kusta dan adanya petugas kesehatan yang terampil dalam pengelolaan program maupun penderita Kusta merupakan bagian yang penting dalam keberhasilan pelaksanaan program P2 Kusta. ia berharap supaya ada penambahan dana dalam memberantas penyakit kusta, di mana dana yang diterima tahun ini sebesar Rp 400 juta bersumber dari dana Otsus. Khusus penyakit kusta hanya mendapat porsi Rp 25 juta. “Kalau idealnya dana yang dibutuhkan sebesar Rp 1.5 Miliar. Dana tersebut sudah mencakup semua program, termasuk penyakit kusta yang butuh penanganan serius dari wasor kota dan juru kota guna menemukan kasus baru,” kata Arif. (Jon/CR 7)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar