Rabu, 09 Desember 2009


Perahu Kalkote, Transportasi Alternatif

Festival Danau Sentani (FDS), yang berlangsung dari tanggal 19 hingga 23 Juni menampilkan sejumlah karya, dari sejumlah peserta, baik yang bernuansa budaya, seperti hasil pertanian, makanan khas Papua, tarian, ukiran, kerajinan tangan, maupun batik Papua sebagai komoditi baru daerah ini, hingga inovasi baru dari kalangan akademisi.

Salah satu yang paling menarik perhatian pengunjung adalah kreatifitas mahasiswa Teknik Mesin, Universitas Cenderawasih, berupa perahu yang memanfaatkan sepeda motor sebagai mesin penggeraknya.

“Berawal dari keinginan untuk ikut berpartisipasi di FDS. Mereka (Mahasiswa-red), mulai berfikir untuk membuat sebuah karya, yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat pulau. Kami melihat kesulitan masyarakat di seberang pulau, terutama di daerah kawasan danau Sentani, dimana pada saat mereka mau bepergian ke pasar atau menyeberang, memakan waktu lama, karena masih harus menunggu, angkutan perahu yang terbatas jumlahnya. Jadi sebenarnya ini adalah ide tiba-tiba dari mahasiswa kata Ir. Harry A. Hussein, sang dosen.

Perahu ini merupakan teknologi tepat guna, dengan mengadopsi teknologi Wind surfing,” kata Harry. Bahan yang dipergunakan untuk membuat perahu ini cukup sederhana, yaitu mempergunakan kayu, triplek dan fiberglass. “Bahan material yang ada kita maksimalkan, cuma ada beberapa material yang cukup mahal seperti fiberglass,” kata Dosen Mekanika Fluida Uncen ini. Menurut Harry, berdasarkan ujicoba yang telah dilakukan perahu ini mampu mengangkut beban hingga 500 kg.

Kelebihan perahu ini bisa digunakan di dua tempat yang berbeda. di sungai mesin sepeda motor dapat menjadi pengerak, sedangkan di darat motor yang menempel di perahu dilepas, dan motor tadi dapat digunakan. “Dengan motor model ini, aktifitas warga jauh lebih cepat. Jadi setelah mereka sampai diseberang, mereka tidak perlu menunggu taksi atau ojek, namun mereka langsung menggunakan motor yang dipasang di perahu tadi sebagai alat transportasi, bahkan dapat digunakan di laut. Jadi transportasi alternatif ini sangat menguntungkan penggunanya,” kata Harry.

Kelemahan dari perahu ini menurut salah seorang mahasiswa, yang ikut merancangnya adalah masalah kecepatan, yang tidak secepat perahu motor pada umumnya.

Proses Pembuatan

Perahu yang oleh Gubernur Papua Barnabas Suebu, SH, diberi nama Kalkote ini proses pembuatannya membutuhkan waktu satu bulan. “Perahu ini harganya 15 juta, tanpa mesin,” kata Harry. Buah karya ini diciptakan oleh mahasiswa jurusan Teknik Mesin D3, tahun ke dua atau semester empat. Awalnya pembuatan perahu ini melibatkan enam orang mahasiswa, namun dalam perjalananya mendapat apresiasi dari mahasiswa lainnya 15 orang. “Setelah melibatkan mahasiswa lainnya proses perampungannya hanya memerlukan waktu satu bulan, padahal pada saat itu mereka sedang ujian, bahkan karena terlalu antusias mereka kerja sampai jam 2 malam,” kata Harry.

“Kedepannya kami berharap mereka lebih semangat dalam berinovasi. Sehingga nantinya mereka akan keluar sebagai teknisi-teknisi handal. Kami dan dosen lainnya hanya memback- up mereka,” kata Harry. (Jon/CR 7- Pat/CR 8)


FLU BABI, PENJUAL MERUGI

Sejak ditemukannya virus H1N1 (Flu Babi- red) yang terjadi di Meksiko dan Amerika membuat warga tersentak panik. Virus mematikan ini telah menelan korban 89 orang per 28 Mei 2009 dan hingga kini belum diketahui obat yang dapat menangkal peredaran virus ini.

Virus ini membuat masyarakat Indonesia waspada, namun Departemen Kesehatan (Depkes) RI telah mengeluarkan statemen bahwa virus berjenis H1N1 ini belum merambah Indonesia. Meskipun belum ditemukan adanya virus H1N1 di Indonesia, tetap ada efeknya bagi penjual daging babi di Kota Jayapura.

Menurut Nia Mindipko, penjual daging babi di Pasar Yotefa mengatakan, sebelumnya ia dapat menjual satu ekor dalam satu hari, namun sekarang hanya dua paha saja. “Sekarang pembeli sepi, gara- gara ada isu flu babi jadi orang ragu- ragu untuk membeli,” kata ibu yang sudah 4 tahun berjualan daging babi ini.

Nia menambahkan sebelum adanya flu babi ia dapat mengantongi penghasilan Rp 1-2 juta dalam satu hari, dengan harga Rp 75ribu/kg. Namun sekarang penghasilan sedikit dan harga daging babi turun menjadi Rp 60-70ribu. “Dulu harga Rp 75ribu sudah tidak bisa ditawar- tawar lagi, namun sekarang kalau orang tawar ya kita kasi, yang penting tidak sampai dibawah Rp 50ribu,” ujar ibu yang berasal dari Merauke ini.

Hal senada diungkapkan oleh Yusuf mandilang yang berjualan daging babi dipasar PTC (Papua Trade Center- red), ia mengalami kerugian. “Biasanya saya dapat menjual satu ekor satu hari, namun sekarang satu ekor dapat dijual dalam empat hari,” katanya.

Berbeda dengan penjual daging babi, pemilik Rumah Makan Amurang didepan terminal lama, Jayapura, mengatakan pendapatannya tetap stabil walaupun isu flu babi sedang hangat. “Pendapatan tidak ada penurunan, tetap stabil,” kata Boy. Hal senada diungkapkan pemilik Rumah Makan Cinta Segar, di waena tidak ada perubahan dan penurunan dalam pendapatan. “Pendapatan tidak menurun. Satu porsi kita jual Rp 30ribu,” kata Yuli.

Kepala kesehatan hewan (Keswan-red) Provinsi Papua, drh. Indarto Sudarsono, mengatakan setelah diteliti virus Flu Babi yang terjadi sebenarnya tidak ada, itu Virus jenis H1N1, bukan flu babi. “Itu virus H1N1, bukan virus Flu Babi, akhirnya yang dikambinghitamkan babi. Itu hanya domain orang,” terang Indarto.

Meskipun peredaran Virus H1N1 belum ditemukan di Indonesia, namun Keswan Provinsi Papua telah melakukan pencegahan dan himbauan bagi masyarakat. “Kami sudah menghimbau masyarakat supaya ternak babinya dikandangkan, meskipun Virus H1N1 belum nampak, namun kita perlu waspada,” ujar Indarto.

Kepala dinas kesehatan Provinsi Papua dr. Bagus Sukaswara mengatakan, masyarakat Papua perlu waspada terhadap Virus H1N1. “Termasuk kita di Papua semua diminta untuk bersikap waspada terhadap H1N1,” kata Bagus.

Bagus berharap supaya tidak menggunakan kata flu babi sebab asalnya bukan dari babi, tetapi ini jenis virus H1N1. “Jadi tolong jangan pakai kata Flu Babi agar tidak menimbulkan konotasi lain dimasyarakat. Karena sudah disampaikan bahwa ini bukan Flu Babi, tetapi H1N1. Penularannya dari manusia kepada manusia bukan dari babi,” kata bagus.

Adapun penularan Virus H1N1 melalui udara dan kontak langsung dengan penderita dengan masa inkubasi 3-4 hari. Dan Umumnya penyakit ini mirip dengan influenza dengan gejala klinis, demam, batuk, pilek, letih lesu, nyeri tenggorokan, sesak napas dan mungkin disertai mual, muntah dan diare. Untuk mencegah Virus jenis H1N1, masyarakat wajib berperilaku hidup sehat, menutup hidung dikala batuk/ bersin, mencuci tangan dengan sabun usai beraktifitas dan segera kontrol bila mengalami klinis flu. (Jon/ CR 7)

Minggu, 06 Desember 2009


ATLET MINIM PERHATIAN

“Air mataku menetes ketika membuka amplop,

isinya jauh dari harapan”

Suhu udara agak panas, terlihat beberapa orang bapak sedang duduk-duduk sambil bercerita ria dengan bertelanjang dada. Begitulah pemandangan di deretan kos- kosan di jalan mana lagi, Polimak Asri.

Penghuni salah satu kos- kosan ini adalah Sofia Worumi, yang biasa disapa Fia oleh teman-temannya.

Wanita kelahiran Jayapura, 8 November 1986 ini bercita- cita jadi atletik, namun seiring dengan berjalannya waktu akhirnya ia menjadi seorang petinju. Atas ajakan sang suami. “Sudah ko ikut saya latihan tinju saja,” kata Fia meniru kata suaminya.

Meniti karir

setelah menyelesaikan pendidikan SMAnya, Fia langsung terjun kedunia tinju. Ia dilatih langsung oleh Apolos Kurni, selama 2 tahun, bertempat di Entrop. Pertandingan pertama kali dilakoninya pada tahun 2007, dikelas bulu 57 putri, dalam Kejurda (Kejuaraan daerah- red) memperebutkan Piala Gubernur, namun dibabak penyisihan kalah. “Saat itu masih pemula, jadi asal pukul saja,” kata anak dari Esau Worumi dan marta Waembu ini.

Pada tahun 2008, Fia bergabung di Sasana Pemancar Boxing Club (PBC- red) dilatih langsung oleh Hengky Jarisetouw. Disini Fia diasah dan dipersiapkan untuk menghadapi pertandingan dikelas ringan 60 kg senior Pada Open tournament tinju amatir Andarias Jarisetouw cup. Akhirnya dapat juara dua. “Saya senang karena saya bisa mencapai juara dua,” kata ibu yang hobi bernyanyi ini.

Bulan November, Fia Mewakili kab. Jayapura dikelas 57 kg pada kejuaraan tinju Pangdam Cup 2008 di Fak- fak. Dalam pertandingan memperoleh juara tiga. “Saya bangga bisa mewakili Kab. Jayapura dan mengharumkan nama Jayapura,” katanya.

Minim perhatian

Fia dan Suaminya sama- sama petinju. Beberapa kali mengikuti perlombaan dan memenangkannya. Bahkan suaminya Oktovianus Jouwe selalu juara satu dalam pertarungan, bahkan sampai masuk pada Pra PON. Kedua Atlet ini sudah mengharumkan nama Kab. Jayapura. Namun sungguh ironis perhatian pemerintah terhadap para atlet tidak ada. “Pas mereka butuh, mereka panggil, namun setelah selesai pertandingan kita dibuang seperti sampah. Apalagi kita hanya menerima uang pas habis pertandingan saja. Waktu itu saya juara 2, dari PBC memberi 1.5 juta, namun dari ketua Pencab hanya 750ribu. saya sampai mau menangis, kita sudah berjuang tetapi hanya dihargai segitu,” kata Fia

Untuk mencukupi kebutuhan sehari- hari dan kebutuhan anaknya Imanuel Jouwe yang berusia 5 tahun, Fia mengojek di Pangkalan ojek Mana lagi, Polimak Asri, sedangkan suaminya menjadi buruh di pelabuhan. “Saya dan suami sudah memasukan lamaran kerja ke dinas- dinas, bahkan kemarin ada CPNS dibuka, kami memasukan lamaran kebidang atletik, namun lamaran kami ditolak mentah- mentah. Katanya mereka hanya membutuhkan yang juara satu saja. Sudah melakukan pendekatan kepejabat- pejabat namun hanya janji- janji manis yang didapatkan. Saya dan suami hanya butuh pekerjaan, tidak lebih dari itu. Jadi security juga nga apa- apa,” kata Fia berharap. (Jon/ CR 7)

PEREMPUAN BERPUNDAK BAJA

Kodrat sebagai perempuan bukanlah penghalang bagi Bu Ida Befar untuk tetap bekerja sebagai tukang pikul semen. Ia, dengan semangat tinggi bertekad menghidupi anaknya agar bisa sekolah tinggi.

Keringat mengucur dari dahinya, ditambah pekatnya debu semen yang dihempaskan dari pundaknya, tidak dihiraukannya. Bobot 50 kg semen berpindah dari mobil ke gudang penyimpanan. Kain serbet sebagai alat pengaman dari debu, membungkusi mukanya, sehingga matanya saja saja yang kelihatan. Bajunya ditempeli debu yang begitu pekat, namun semangat juangnya tetap kuat untuk bekerja.

Ida Befar, yang biasa disapa Ida oleh teman- teman sekerjanya di Perusahaan Gudang semen 45 selalu bersemangat melakukan pekerjaannya. Jam 8 pagi ia sudah meninggalkan rumah dan anaknya tercinta, dan berkumpul dengan keluarga kembali jam 19 malam. Saban hari ia bergelut dengan pekerjaan yang menantang ini. Bobot 50 kg semen menjadi makanannya setiap hari. Pekerjaan sebagai tukang pikul semen yang tidak lazim dilakukan oleh seorang wanita, sudah dijalani selama empat tahun. “Awalnya pekerjaan ini berat, tapi karena sudah terbiasa, ya nga terasa lagi,” Ujar mama dari Christina Ronsumbre ini

Wanita yang dilahirkan di Jayapura, 10 Juli 1975 ini, mengaku minimnya perhatian pihak perusahan terhadap nasib buruh yang bekerja selama ini. Pekerjaan ini sarat dengan resiko bagi kesehatan menimbulkan sesak nafas, batuk serta bisa tertimpa oleh tumpukan semen yang disusun setinggi 35 tumpukan. Pekerjaan ini hasilnya tidak seimbang dengan berat dan resiko yang dihadapi. “Pekerjaan ini berat mas, namun hasilnya tidak sesuai. Apalagi resikonya bagi kesehatan kami, tapi mau bagaimana lagi,” ujar ibu yang mempunyai motto ‘Bekarja dan Berdoa’ ini.

Penghasilan bu Ida dari memikul semen diupah sebesar 500ribu per dua minggu. Hasil ini belum dari cukup, namun ia tetap menyisihkan penghasilannya kerekening yang dia buat khusus untuk persiapan masa depan pendidikan anaknya tercinta. “Sedihnya kalau kita sakit, tidak ada jaminan yang diberikan oleh pihak perusahaan. Kita sakit ya kita tanggung sendiri uang berobatnya. Kalau kita minta bantuan kepada pimpinan, selalu berbelit- belit,” kata

Cinta Bersemi

Tempat pekerjaan merupakan salah satu untuk menemukan jodoh. Itulah yang dialami bu Ida. Ia menemukan tulang rusuknya Welhelmos Ronsumbre yang menjadi suaminya pada saat ini. Pernikahan mereka dikaruniai seorang putri yang pada saat ini sudah duduk dibangku kelas 1 sekolah dasar. Suami bu Ida, Welhelmos memiliki pekerjaan sama dengan dirinya, tukang pikul semen. Welhelmos menekuni pekerjaan ini sejak tahun 1991. jadi sudah 18 tahun ia bekerja sebagai buruh, tanpa memikirkan untuk pindah mencari pekerjaan lain. “Saya tidak punya keterampilan lain mas,” Ujar Welhelmos.

“Untuk perusahaan dan pemerintah, tolong perhatikan yang kerja, apalagi yang pikul-pikul semen ada perempuan. Pekerjaan ini berat, penuh resiko, namun upahnya tidak sesuai, sedangkan kebutuhan hidup meningkat,” ujar Ida penuh harap. (Jon/ CR 7)



BERBAGI DALAM KETERBATASAN

“Hatiku terenyuh melihat mereka, walaupun dalam keadaan cacat, mereka tetap bersemangat menjalani hidup. Tidak ada kata mengemis.”

Berkembangnya prinsip era emasipasi dalam budaya ini, membuat kaum wanita semakin menunjukan jati dirinya baik itu dalam kancah publik, karir maupun dalam pekerjaan. Tidak ada pembedaan dan batasan, meskipun di Indonesia, apalagi di Papua, seorang yang melakukan pekerjaan yang tidak lazim bagi kaum hawa, menjadi hal yang unik. Ibu Santi yang biasa disapa Ma Arin ini tampil beda dari perempuan lainnya. Ia satu-satunya pengojek yang mengkhususkan dirinya untuk mengantar orang-orang yang cacat (Tuna netra) yang ada dilingkungannya. “Awalnya saya tidak ada niat untuk menjadi pengojek, namun setelah melihat mereka (Tuna netra-red) hati saya tergugah untuk menolong, walaupun saya juga susah,” ujar ibu berdarah jawa ini.

Perasaan iba seorang ibu, muncul ketika melihat sesuatu yang seharusnya bisa ditolong oleh manusia yang normal, namun tidak dilakukan. “Ada tuna netra yang tahan-tahan ojek, mungkin pada saat itu bulan tua, lalu dong panggil ojek, tukang ojek jawab, trada helm, padahal disitu ada helm dua. Saya berpikir kalau dong tra kerja dapat uang dari mana,” kenang ibu yang dilahirkan tahun 1975.

Berawal dari kejadian itu, karena iba akhirnya ia mengambil inisiatif untuk menolong salah seorang tuna netra tersebut untuk diantar didepan salah satu tokoh buku di Kota Jayapura. Pertama- tama hanya seorang ibu saja, namun pada hari berikutnya hampir semua tuna netra yang ada dirumah tersebut, meminta pertolongan kepada nya.

Perkerjaan ini tergolong unik, mama Arin menjadi tukang ojek khusus bagi mereka yang tuna netra, selain tuna netra, ia tidak melayani orang yang normal. Jika ada tuna netra yang minta pertolongannya, maka mereka tinggal sms atau telepon, untuk minta tolong diantar ditempat yang diinginkan. Suka dukanya menjadi tukang ojek tuna netra membuat kita berpikir panjang, selain mereka tidak tahu jalan dan tempat, hal ini sungguh menyulitkan dirinya dalam mencari alamat yang dituju. “Pernah satu kali saya mengantar seorang tuna netra, di Dok IX, namun tidak berhasil ditemukan, karena nama dan alamat orang yang dituju tidak tidak dikenal,” ujar suami Indra ini.

Perbuatan baik tidak selalu diterima dengan baik oleh semua orang, begitulah yang dirasakan oleh ma Arin, ia mendapat intimidasi dari dari orang yang tidak senang terhadap apa yang ia lakukan, namun ia tetap mengikuti kata hatinya untuk membantu orang-orang yang sunggu-sungguh membutuhkan bantuan. Tidak hanya itu, ia juga mengatakan ada perlakuan dari tuna netra yang diboncenginya, yang nakal dan jahil, sehingga membuat ia harus bertindak tegas. “Walaupun mereka tuna Netra namun ada juga yang nga sopan. Pernah ada satu laki-laki tuna netra yang nga sopan, saya langsung ingatkan dia. Namun banyak juga yang sopan, baik dan rendah hati,” ungkapnya jujur.

Memang diakui, setelah menolong tuna netra, berkat Tuhan sungguh dirasakan, dimana penghasilan dan kebutuhan hidup terpenuhi. “Ini suatu jalan Tuhan, setelah saya menolong orang yang betul-betul membutuhkan, Tuhan membuka pintu berkat bagi keluarga kami,” ujar ibu dari Arin dan Serin ini. (JON/CR 7)





MENGUBAH STIGMA TENTANG PEREMPUAN

“Membawa mereka dari gelap kepada terang”, merupakan sebuah motto dan prinsip hidup yang ditanamkan erat- erat didalam hati, demi perjuangan kaum perempuan terhadap diskriminasi, ketertinggalan dan kekerasan.

Kepala biro pemberdayaan perempuan Provinsi Papua, Dra. Sipora Nelci Modouw, menuturkan, sejak duduk di kelas 5 SD jiwa berorganisasi mulai terbentuk. Tidak bisa dipungkiri, didikan orang ‘Bule’ (Guru dari barat-red) memberi dampak positif bagi anak didiknya. Prinsip hidup disiplin baik dalam bertindak maupun dalam menyelesaikan tugas yang diberikan harus tepat waktu. Alhasil, saat ini menjadi seorang pemimpin yang siap menularkan ilmunya bagi perempuan Papua.

7 November 1950 merupakan hari yang bersejarah dalam hidupnya, dimana ia dilahirkan di kampung Asei, Sentani ini. Masa kecilnya sama seperti anak-anak lainnya. Pada saat usia sekolah Sipora bersekolah dengan baik hingga menyelesaikan SDnya. Tamat SD melanjutkan studinya ke SMP. Di SMP ditunjuk menjadi ketua asrama putri pada tahun 1963- 1967. Pada saat SMP Sipora mengikuti gerakan pelajar anti gerakan 30SPKI dengan menandatangani kesepakatan yang berbunyi “Kami semua pelajar tidak setuju dengan gerakan 30SPKI itu” pesertanya dari seluruh Indonesia.

Selesai SMP melanjutkan ke SPG (sekolah pendidikan guru), disana menjadi ketua asrama putri SPG pada tahun 1968- 1969. Setelah dari SPG dikirim tugas belajar di Bandung, kesekolah guru luar biasa (SGLB), spsialisasinya belajar tentang anak- anak cacat tunagrahita. “Tunagrahita itu mencakup anak- anak yang lambat belajar, yang bodoh- bodoh dan nao- nao, nah saya guru itu. Biasanya mereka termasuk golongan C atau sekolah luar biasa bagian C. Disekolah SGPLB (sekolah guru pendidikan luar biasa) dari tahun 1971- 1973 dibiayai oleh pemerintah,” jelasnya.

Alumni IKIP Bandung ini, merasa tidak cukup hanya sekolah guru, maka melanjutkan pendidikan ke IKIP Bandung pada tahun 1974- 1977 untuk memperdalam pengetahuan tentang Tunagrahita sampai memperoleh gelar sarjana muda pendidikan luaar biasa. Di SGLB dipercayakan lagi menjadi ketua asrama. “Walaupun di Bandung, saya tetap dipercayakan menjadi ketua asrama mengkoordinir kurang lebih 60 mahasiswi, dari Sabang sampai Merauke,” jelasnya.

Disamping sebagai ketua asrama, Sipora juga dipercayakan sebagai bendahara kerukunan mahasiswa Indonesia pendidikan luar biasa. Sambil kuliah Sipora tidak membuang waktunya sia- sia tetapi memanfaatkan waktu yang ada untuk latihan kepemimpinan (leadership) untuk pertama kalinya pada tahun 1976 bertempat disenat IKIP. Di senat IKIP inilah kepemimpinan Sipora mulai terbentuk dengan baik.

Ketua badan koordinasi wanita (BKW) seluruh Papua, menambahkan, Pada tahun 1977 kembali ke Papua. Tetapi dikirim kembali ke Bandung untuk menyelesaikan Sarjana pendidikan pada tahun 1987 dan selesai 1990. pada tahun 1990 tersebut kembali pulang ditanah tercinta Papua. Dalam perjalanan dari tahun 1965 sampai sekarang sudah banyak organisasi yang digeluti, seperti ikatan guru seluruh Indinesia (IGSI), ikatan sarjana pendidikan Indonesia (ISPI) dll.

Menjabat ketua PERWOSI ini, Masih aktif menjadi ketua wanita pembangunan Indonesia (WPI) dari 1993 sampai saat ini. Organisasi politik ini dibawah asuhan Golkar. Banyak yang dilahirkan oleh Golkar seperti AMPI. Tidak hanya itu Sipora juga menjadi Ketua BKW (Badan Koordinasi Wanita) seluruh Papua. Dan baru- baru ini Di bidang Olahraga baru dilatik menjadi ketua Porwosi (Persatuan wanita olahraga seluruh Indonesia) untuk Provinsi Papua dari periode 2009- 2013.

Alumni SMP Kotaraja dalam ini menjelaskan, sejak tahun 1971 sudah bekerja didinas pendidikan dan pengajaran sampai tahun 2001. “Saya lulus SPG tahun 1970 langsung pengangkatan, karena daerah membutuhkan,”. Pada tahun 1973 diangkat menjadi PNS. “Saya calon pegawai itu tujuh tahun, karena ada peraturan bagi yang sekolah itu tidak bisa diangkat, karena saya sambil sekolah. Ya konsekuensinya saya terima. Pada tahun 1977 saya diangkat dengan penyesuaian ijazah dan golongan IIa naik ke IIb. Tahun 1978 saya sudah naik golongan IIb sebagai pengatur tingkat I.

Ibu yang mempunyai hobi olahraga ini, menjelaskan, tanggal 16 Mei 2001 dilantik menjadi kepala bagian (kabag) pemberdayaan perempuan Kabupaten Jayapura. Tanggal 29 Juni 2001 saya dipanggil oleh Gubernur J.P. Solossa, dan dilantik menjadi kepala kantor pemberdayaan perempuan Provinsi Papua. Jadi hanya 30 hari saya di kantor pemberdayaan perempuan kabupaten. Walaupun saya sudah menjadi kepala kantor pemberdayaan perempuan Provinsi, namun dari bulan Juli sampai Desember 2001, saya tetap membenahi kabupaten Jayapura dan benahi Provinsi. Dua wilayah ini saya benahi, sampai seluruh perangkatnya lengkap, artinya dari SDA, fasilitas kantornya terpenuhi, akhirnya tepat bulan Januari 2002 saya melepaskan Kabupaten Jayapura dan sekarang fokus di Provinsi. “Jadi kalau tahun 2001 dulu saya harus berbagi waktu, kalau pagi di kabupaten dan siangnya harus di provinsi. Begitu juga sebaliknya, semuanya ini terjadi selama 8 bulan”.

Ibu yang senang berorganisasi ini, mengucap syukur, dengan demikian saya belajar dari Kabag sekaligus menjabat sebagai kepala kantor, 8 bulan saya benahi dan akhirnya saya mengambil sikap yang tegas kepada almarhum Gubernur Solossa saya katakan pada 7 Januari kembali saya katakan kepada posisi semula kalau saya tidak dapat tempat. Jadi selama saya di Provinsi tidak diberi ruangan, meja, kursi untuk duduk. Saya tidak pernah mendapat ruangan yang layak untuk kerja. Dan akhirnya sekarang mereka sudah memberikan saya ruangan beserta staff.

“Anda bayangkan, selama 6 bulan saya kerja tanpa kursi dan meja, bagi seorang aparatur. Tapi ini sangat berkesan bagi saya dan saya akan tulis dalam otobiografi saya sebagai suatu catatan- catatan yang penting. Dan itu membina kita untuk bagaimana menjadi seorang aparatur, bukan itu tidak baik, namun ada nilai- nilai positifnya,” ujarnya.

Sesudah ada ruangan, saya menata seluruhnya seoptimal mungkin bagaimana perempuan ini mau dibawah dan mau dibawa kemana. Saya membuat latihan kepemimpinan wanita. Dari kekurangan perempuan Papua menjadi seorang pemimpin sehingga terdapat kekosongan, gap yang cukup panjang dalam birokrasi. Pada tahun 2001 Saya berpikir satu materi pertama yang harus dimulai adalah latihan kepemimpinan (leadership) bagi perempuan, dengan anggaran yang diberikan pemerintah. Kita tolong banyak perempuan untuk bisa melihat bahwa dia bisa memimpin dirinya sendiri, disamping memimpin orang lain.

Ibu dari 4 orang anak ini, mengatakan,“Seperti visi-misi kami, bahwa di Papua perempuan bisa menjadi setara, baik itu setara dalam berpikir, ataupun sebagai mitra sejajar. Jadi mereka tidak hanya tahu ruang dapur dan depan, tetapi kita antar mereka diluar ada banyak kesibukan dan ada banyak hal yang perlu diketahui oleh perempuan,”

Ketua IPAS (Ikatan Perempuan Asal Sentani) ini menjelaskan, Pada tahun 1983 diutus untuk mengikuti pertemuan nasional ke Maluku- Ambon. Tahun 1984 mengikuti seminar tentang peranan wanita dalam pembangunan tingkat nasional di Bali. Selain itu pada tahun 2001 Sipora juga pernah berangkat ke Uganda untuk study banding bersama Wakil Gubernur Papua saat itu Constan Carma, untuk belajar tentang HIV/AIDS selama 10 hari. Pada tahun 2006 bersama dengan Gubernur Barnabas Suebu ke Fort Numbay dalam rangka hubungan Bilateral kedua negara dan beliau mendapat award dari pemerintah Inggris.

Menurut Sipora, sebelum pensiun ia mesti mencari kader-kader yang nantinya mampu melanjutkan tugas-tugasnya. Untuk memperkaya wawasan ia selalu berusaha menimba ilmu dari orang lain di setiap kesempatan.

Tantangan bukan sebagai sesuatu yang mematikan.”Saya berusaha mencari solusi sebagai pemecahan sebuah masalah. Misalnya jika saya terbatas dalam memberikan kebijakan bagi LSM tapi masih ada Gubernur, Sekda, yang menjadi atasan saya yang berwenang,” kata Sipora. Dukungan juga datang dari sang suami Drs. Simson Dimara, yang merupakan kepala Dinas P dan P Kabupaten Biak Numfor.

Motto “membawa mereka dari gelap kepada terang”, berharap, bahwa perempuan Papua harus bisa sama dengan perempuan didunia ini, khususnya Indonesia dan lebih terkhusus lagi dia bisa tampil di Papua, kalau laki- laki bisa mengapa kita perempuan tidak bisa? Bisa dalam seluruh aspek, dengan demikian pengetahuan mereka harus dimiliki dan ketrampilan, sehingga ketika tampil dia tidak dipinggirkan, tidak dimarginalkan, tidak didiskriminasi. “Saya selalu berbicara keras, perempuan tidak boleh didiskriminasi. Kita harus berbicara mulai sekarang, kalau tidak, kapan lagi? Tandas mama dari Dian Sherly Dimara, Daniel Dimara, Ochan Dimara dan Paskalina Dimara. (Jon/CR-7)

SAJIAN ALA RESTO N’ CAFE

“NEW YO’ MAU”

Bagi pengemar masakan ala Rica- rica, sangat cocok untuk mencoba ditempat yang satu ini. Menu- menu andalannya siap memberi kepuasan, bahkan memanjakan lidah anda dengan sajian yang aduhai enaknya.

Resto N’ Cafe “New Yo’ Mau” terletak di Jln. Raya Sentani, Padang Bulan menyiapkan menu andalannya yang kudu wajib dicicipi. Berbagai menu siap disajikan antara lain: Ayam goreng rica- rica, udang goreng rica- rica, ayam bakar lalapan, cumi cah jamur, ikan mubara bakar, mujair bakar lalapan plus cah kangkung dengan rasa yang ueenak buangeet.

Mengenai harga jangan kuatir, dijamin tidak akan membuat dompet bolong. Tarif satu porsinya berkisar antara Rp 35.000 sampai Rp 50.000 sudah memberi kepuasan. Disuguhkan dengan berbagai jenis minuman jus yang siap memanjakan tengorokan anda. Minuman andalannya Jus Terong Belanda, yang berkhasiat menambah stamina dan penambah darah.

Suasana tempat makan tinggal pilih sesuai dengan keinginan, baik itu diruang terbuka langsung bersentuhan dengan alam, didalam ruangan maupun yang merindukan tempat romantis, semuanya disiapkan. Setiap ruangan menggunakan nama- nama burung yang berasal dari Bumi Cendrawasih, seperti ruangan Maleo, Cendrawasih, Taon- taon dan Beo serta ada juga ruangan khas ala Jepang.

Sambil menunggu makanan yang disajikan, pelangan dapat mengisi waktu dengan bernyanyi ataupun mendengar lagu sesuai keinginan. fasilitas ini gratis seperti, keyboar, karoke atau pelangan dapat pesan lagu, bang oprator siap melayani.

Arter M. Kirojan, SE, sebagai Manager & Accounting mengatakan, “Kami siap melayani setiap pelangan, karena pelangan itu ibarat raja yang siap dipuaskan. kami menyajikan menu- menu andalan kami dan memberi kemudahan dalam fasilitas gratis, seperti karaoke. (Jon/ CR- 7)